KATASUMBAR – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kembali menjadi perhatian publik pasca dirinya didukung oleh PAN Jateng untuk jadi Calon Presiden.
Dalam dukungan yang diumumkan pada Jumat (2/12) lalu itu, kader PDIP tersebut dipercaya PAN Jawa Tengah untuk menggantikan Jokowi.
Tak cuma ihwal dukungan tersebut. Pidato Ganjar saat menghadiri undangan PAN itu juga menjadi perhatian.
Saat berpidato, Ganjar mengaku kerap mendapatkan kritikan lewat media sosial.
Suara kritikan di media sosial ini bahkan menurut dia, lebih pedas daripada harga Cabai.
“Suara medsos itu, pedasnya melebihi harga cabai lo, pak,” katanya di depan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.
Kendati kerap dikritik lewat medsos, Ganjar mengaku tak memusingkan hal demikian.
Bahkan ia menegaskan setiap pemimpin harus bisa menerima kritikan.
Ia pun menanggapi sikap seorang pemimpin yang harus bisa menerima kritikan itu lewat pepatah Minangkabau.
“Menurut saya kita harus berguru pada orang Minang lewat tradisi pepatah-petitihnya.”
“Alun Rabah Lah Ka Ujuang, Alun Pai Lah Babaliak, Alun Dibali Lah Bajua, Alun Dimakan Lah Taraso.”
Kalimat yang dilontarkan Ganjar ini lantas mendapatkan riuh tepuk tangan dari kader PAN Jawa Tengah.
“Saatnya saya terjemahkan. Belum pergi sudah kembali, belum dibeli sudah terjual, belum dimakan sudah terasa. Luar Biasa!”
Dengan pepatah tersebut, Ganjar mengaku mendapatkan pengajaran bahwa pemimpin harus bisa menyingkirkan kepentingan sesaat.
“Pepatah Minang ini menjelaskan pada kita bagaimana kita hiduo berakal, terukur, berjangka dan tidak memikirkan kepentingan yang sesaat,” ulasnya.
BACA BERITA TENTANG GANJAR PRANOWO LAINNYA DISINI
Pencitraan di Medsos
Sebelumnya, Ganjar Pranowo kerap disebut sebagai gubernur yang kerap pencitraan lewat media sosial.
Dikutip dari Populis, Ganjar tak menampik hal demikian. Ia bahkan menyebut sengaja melakukannya.
Ganjar mengaku, awalnya dia menggunakan media sosial untuk mendongkrak elektabilitas saat jadi Calon Gubernur Jateng.
Ia sengaja memanfaatkan media sosial agar bisa berkomunikasi dan lebih dekat dengan rakyat.
Sebab, menurutnya, kedekatan seorang pemimpin dengan rakyatnya merupakan tuntutan demokrasi.
“Maka saya gunakanlah alat ini (Handphone), maka alat ini adalah alat perjumpaan saya dengan konstituen saat itu,” ucap dia.
Akhirnya, setelah menang di Pilkada Jawa Tengah, ia keterusan berkomunikasi dengan publik lewat akunnya di berbagai platform.
Ia pun tak membantah perihal isu pencitraan tersebut.
“Dan betul pencitraan sebagainya, wong saya Gubernur, kalau saya nggak membangun citra bagaimana.”
“Ada pasti dibangun ngumpulin orang menbangun citra. Tapi pencitraan itu mesti diukur seberapa konsistensi dilakukan,” pungkasnya.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.
