KATASUMBAR- Hening. Lalu riuh. Itulah suasana yang pecah di panggung Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026, Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa (29/9/2026) malam.
Sebagai penutup, Teater Balai Bukittinggi mempersembahkan karya terbarunya: Physical of Ronggiang. Tanpa banyak dialog, lima aktor laki-laki menguasai panggung hanya dengan tubuh, napas, dan emosi yang meledak-ledak.
Ini bukan Ronggiang seperti yang biasa kita saksikan di pesta rakyat Pasaman Barat. Ini adalah Ronggiang yang dibedah jiwanya.
Sutradara, Pemusik, dan Skenografer Physical of Ronggiang, Ahmad Ridwan Fadjri menyebut karya ini sebagai upaya generasi baru teater Minangkabau untuk membaca ulang tradisi.
“Kami sebagian besar alumni ISI Padang Panjang. Kami mewakili kelompok teater generasi hari ini, generasi baru,” ungkap Ahmad Ridwan Fajri usai pentas.
Dari Buruh Sawit Transmigran hingga Lahirnya Ronggiang
Physical of Ronggiang berangkat dari riset yang dalam. Ronggiang sendiri, kata Dani, adalah buah akulturasi budaya yang luar biasa.
Kesenian ini lahir sekitar tahun 1920-an, dibawa oleh masyarakat transmigran Jawa yang didatangkan Belanda ke Sumatera Barat untuk menjadi buruh perkebunan sawit di Pasaman Barat.
“Para pekerjanya mempunyai basic ronggeng, nah ronggeng ini kan Jawa, lalu beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat di Minangkabau, maka lahirlah Ronggiang,” jelasnya.
Adegan pembuka yang dimainkan dengan pantomim secara apik menggambarkan kerasnya hidup sebagai buruh sawit di masa itu. Gerak mencangkul, memikul, dan kelelahan menjadi prolog yang getir sebelum masuk ke inti cerita.
Gadi Bujang: Tokoh yang Ambigu dan Penuh Luka
Fokus utama garapan ini bukanlah pada kemeriahan Ronggiang, melainkan pada satu tokoh sentralnya: Gadi Bujang.
Teater Balai menggali sisi psikologis Gadi Bujang yang selama ini tak pernah dipertanyakan. Ia digambarkan sebagai sosok yang ambigu, penuh kekecewaan, dan kebimbangan.
“Pertunjukan ini menggali lebih dalam sisi atau kejiwaan atau emosi dari pemeran yang namanya Gadi Bujang… yang sangat ambigu, penuh dengan kekecewaan atau penuh dengan kebimbangan,” terangnya.
Lima penampil bergantian menjadi representasi pergulatan batin Gadi Bujang. Tubuh mereka meliuk, menghentak, jatuh, dan bangkit, membangun ketegangan emosional yang membuat penonton senyap menahan napas.
Misi Teater Balai: Menggali Intelektual Minangkabau
Pentas ini menegaskan konsistensi Teater Balai Bukittinggi dalam menggarap teater berbasis tradisi. Sebelumnya, mereka telah mentransformasi Randai, Tupai Janjang dari Agam, Saluang Sirompa dari 50 Kota, Indang dari Pariaman, hingga Sijobang dari Payakumbuh ke dalam bahasa teater kontemporer.
“Teater Balai akhir-akhir ini memfokuskan diri untuk menggarap teater dengan basis kebudayaan, yaitu seni-seni tradisi yang berasal dari Minangkabau,” katanya.
Baginya, tradisi Minangkabau menyimpan kegeniusan intelektual yang melampaui zamannya karena berakar pada alam dan filosofi yang dalam.
“Saya menyadari bahwa kekayaan intelektual orang Minangkabau sangat luar biasa… Bagaimana cerdasnya para moyang-moyang kita dulu membuat satu garapan pertunjukan yang bisa dibilang melewati zamannya,” ujarnya penuh kagum.
Ia pun menitipkan harapan sederhana: agar generasi muda Sumatera Barat tak segan kembali menonton dan menggarap pertunjukan tradisi sebagai sumber penciptaan yang tak akan pernah kering.
PKD Saraso Fest 2026 sendiri berlangsung pada 28 September hingga 3 Oktober 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, menjadi etalase seni tradisi dari berbagai kabupaten/kota sekaligus ruang laboratorium bagi seniman muda.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.
