Site icon Kata Sumbar

Kronologi Naiknya Status Gunung Marapi dari Waspada ke Siaga

KATASUMBAR – Pemerintah melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara resmi menaikkan status Gunung Marapi dari Waspada ke Siaga.

Kenaikan status ini terhitung pukul 18.00 WIB, Selasa 9 Januari 2024. Kini radius bahaya naik dari 3 kilometer menjadi 4,5 kilometer.

Data dari PVMBG menyebutkan, gunung setinggi 2891 mdpl ini kerap meletus. Erupsinya tercatat sejak 1807 dengan masa istirahat terpendek kurang dari 1 tahun dan terlama 17 tahun (rata-rata istirahat 3,5 tahun).

Karakter erupsinya adalah eksplosif dan juga efusif. Titik erupsinya tidak selalu terjadi pada kawah yang sama, tetapi bergerak membentuk garis lurus dengan arah timur – barat daya antara Kawah Tuo hingga Kawah Bongsu.

Namun sejak awal tahun 1987 sampai sekarang erupsinya bersifat eksplosif yang berpusat di Kawah Verbeek. Aktivitas erupsi biasanya disertai suara gemuruh dengan produk erupsi dapat berupa abu, pasir, lapili dan terkadang juga diikuti oleh lontaran material pijar dan bom vulkanik.

Periode erupsi terakhir dimulai sejak 3 Desember 2023 pukul 14:54 WIB.

Erupsi terjadi secara eksplosif dengan tinggi kolom erupsi sekitar 3000 meter di atas puncak (5891 mdpl) dan terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi 4 menit 41 detik.

Kolom erupsi teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur. Erupsi juga disertai dengan aliran piroklasik ke arah utara dengan jarak luncur sejauh 3 kilometer dari puncak. Hingga saat ini aktivitas erupsi dan hembusan masih berlangsung.

Lalu melalui pengamatan visual dari 1-8 Januari 2024, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal dengan tinggi sekitar 150-700 meter di atas puncak. Erupsi teramati dengan tinggi kolom 700 meter di atas puncak dengan kolom erupsi berwarna kelabu.

Sementara, melalui pengamatan instrumental, data kegempaan dalam interval waktu 1 – 8 Januari 2024 didominasi oleh gempa hembusan.

Kegempaan selengkapnya terekam 8 kali gempa Erupsi/Letusan, 65 kali gempa Hembusan, 2 kali gempa Low Frequency, 1 kali gempa Vulkanik Dangkal, 11 kali gempa Vulkanik Dalam, 8 kali gempa Tektonik Lokal, 18 kali gempa Tektonik Jauh, dan Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm).

Data deformasi dari Stasiun Tiltmeter Batupalano pasca erupsi utama 3 Desember 2023 memperlihatkan kecenderungan mendatar pada sumbu tangensial maupun sumbu radial.

Berdasar pengamatan visual dan instrumental, aktivitas gunung ini sudah terdeteksi sejak awal tahun 2023. Saat itu letusan didominasi erupsi eksplosif yang berlangsung sejak 7 Januari hingga 20 Februari 2023.

Selanjutnya erupsi terhenti dan dan aktivitas kegempaan lebih didominasi oleh gempa Tektonik Lokal dan Tektonik Jauh.

Namun demikian jenis gempa vulkanik masih terekam meskipun dalam jumlah yang relatif rendah yang mengindikasikan masih tetap ada dorongan magma/fluida dari kedalaman.

Letusan 3 Desember 2023

Pada 3 Desember 2023 pukul 14:54 WIB, kembali terjadi erupsi yang tidak didahului peningkatan gempa vulkanik yang signifikan. Tercatat gempa Vulkanik Dalam (VA) hanya terekam 3 kali dari tanggal 16 November – 2 Desember 2023 dengan baseline RSAM (Real Seismic Amplitude Measurement) relatif mendatar.

Data tiltmeter juga menunjukkan pola mendatar pada sumbu radial dan sedikit inflasi pada sumbu tangensial.

Pasca erupsi 3 Desember 2023, erupsi lanjutan masih berlangsung hingga saat ini. Jumlah erupsi harian cenderung menurun namun sebaliknya jumlah gempa Low Frequency dan Vulkanik Dalam (VA) cenderung meningkat yang mengindikasikan pasokan magma dari kedalaman masih terjadi dan cenderung meningkat.

Hal ini juga terlihat dari grafik baseline RSAM yang masih di atas normal dan data tiltmeter yang cenderung mendatar.

Adanya aktivitas erupsi yang teramati secara visual dan masih terekamnya gempa erupsi dan gempa hembusan yang disertai dengan tremor menerus menunjukkan aktivitas Marapi masih tergolong tinggi.

Data dari satelit Sentinel juga menunjukkan bahwa laju emisi (fluks) gas SO2 yang dihasilkan dari aktivitas Marapi saat ini tergolong tinggi.

Kehadiran magma di dalam/dasar kawah yang terindikasi sejak teramatinya pancaran
sinar api di puncak Marapi pada tanggal 6 Desember 2023 malam hari dan teramatinya lontaran material pijar pada erupsi-erupsi berikutnya menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan tipe erupsi/letusan dari tipe freatik menjadi tipe magmatik.

Kondisi tersebut di atas dapat berpotensi menyebabkan terjadinya akumulasi tekanan di dalam tubuh gunung api yang dapat menyebabkan terjadinya erupsi dengan energi yang meningkat dan jangkauan lontaran material pijar yang lebih jauh dari pusat erupsi.

Potensi dan Ancaman

Jika pasokan magma dari kedalaman terus berlangsung dan cenderung meningkat
maka erupsi dapat terjadi dengan energi yang lebih besar dengan potensi/ancaman
bahaya dari lontaran material vulkanik berukuran batu (bom), lapili, atau pasir
diperkirakan dapat menjangkau wilayah radius 4,5 kilometer dari Kawah Verbeek.

Sedangkan untuk potensi/ancaman dari abu erupsi dapat menyebar lebih luas/jauh yang tergantung pada arah dan kecepatan angin. Kemudian ancaman lainnya adalah banjir lahar di sepanjang arus sungai yang berhulu dari gunung.

Berdasar hasil analisis di atas, maka status Gunung Marapi ditingkatkan dari Waspada ke Siaga. Masyarakat diminta menjauhi radius 4,5 kilometer dari kawah.

(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

Exit mobile version