Site icon Kata Sumbar

Kisah Relawan PMI Bukittinggi Bertugas saat Tsunami Aceh

KATASUMBAR – Tepat 17 tahun silam, 26 Desember 2004, terjadi gempa dengan magnitudo 9,1 di Pesisir Barat Aceh.

Gempa menimbulkan Tsunami dahsyat dan membunuh lebih dari 200 ribu jiwa.

Seketika, Pemerintah menetapkan status darurat sehingga bantuan maupun relawan berdatangan menuju lokasi.

PMI Bukittinggi mengirim sebanyak 5 relawan, salah satunya adalah Afdal (52), untuk bergabung dengan ratusan relawan lainnya dari seluruh Indonesia.

Afdal menceritakan kisahnya selama bertugas di Aceh.

Ia sampai di Aceh pada awal Januari 2005, tepatnya di Kamp Pengungsian dekat Kampus Universitas Syiah Kuala.

“Pertama saya melihat ada mayat tersangkut di pohon, lalu saya bertanya kenapa tidak ada yang mengevakuasinya ?,” sebutnya, diperbaharui Minggu 26 Desember 2021

Afdal menjawab pertanyaannya sendiri setelah memantau lokasi.

“Terlalu banyak mayat bergelimpangan di bawah pohon itu, tim evakuasi tak bisa lewat. Air mataku jatuh kedalam,” sambungnya.

Pria ini memiliki sedikit keahlian di bidang medis. Akibatnya, Afdal dipisah dari rombongan lain.

“Tugas saya merawat korban luka termasuk operasi di bawah pengawasan dokter. Namun, sesekali turun ke lapangan membantu evakuasi korban,” ucapnya.

Dalam sehari, ada sekitar 250 orang datang ke posko untuk berobat dengan kondisi luka yang sulit diungkap kata-kata.

“Bagi saya, yang dari PMI, melihat darah bukanlah hal yang baru. Tapi, saya benar-benar kasihan melihat penderitaan warga Aceh, benar-benar mengiris hati,’’ tambahnya.

Tak Bedakan Pasien

Alumni Akper Perintis 1995 itu selama bertugas tak pernah membedakan pasien. Ia menerima dengan tangan terbuka.

“Baik itu rakyat biasa, maupun pemberontak GAM tentu mendapat perlakuan sama. Siapa yang kondisinya berat, itu yang kita dahulukan,” ujar Afdal.

Ada satu kejadian yang membuat pria kelahiran 1968 itu terenyuh. Saat itu, Afdal merawat seorang ibu yang selamat setelah kena Tsunami.

Ibu itu tidak terluka parah, namun ia sebatang kara karena kehilangan seluruh anggota keluarganya.

Kejadian ini membuat Afdal teringat akan keluarganya yang berada di rumah.

Dari pengalaman itu, Afdal belajar kalau mental adalah hal terpenting dalam dunia medis, terutama saat tragedi Aceh.

“Dengan melihat banyaknya mayat, darah dan air mata sangat menguji mental. Di sana, relawan mutlak harus punya keberanian,” kenangnya.

Kejadian telah lama berlalu, tapi Afdal belum bisa melupakan pengalamannya bertugas di Aceh pasca tsunami, dan bertekad berbuat yang terbaik untuk masyarakat.

“Saya ingin terus berguna bagi orang lain kendati hanya lewat setetes betadine,’’ pungkas pria yang gemar berdonor darah itu.

Afdal bertugas di Aceh selama 25 hari dengan honor harian sebesar 150 ribu rupiah.

Ia mendapat piagam atas dedikasinya dan kekinian masih menjadi seorang relawan PMI Bukittinggi.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

Exit mobile version