KATASUMBAR- Laju inflasi di Sumatera Barat pada Juni 2026 melandai menjadi 0,50 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 0,90 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram, mengatakan perlambatan inflasi dipengaruhi berkurangnya tekanan pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food), yang turun menjadi 0,56 persen (mtm) dari 2,47 persen (mtm) pada Mei 2026.
“Penurunan terjadi seiring meredanya harga cabai merah dan berlanjutnya penurunan harga daging ayam dan telur ayam ras. Secara akumulatif hingga Juni 2026, kelompok bahan pangan bergejolak bahkan masih mencatatkan deflasi sebesar -3,28 persen (ytd), sehingga menjadi faktor utama yang menjaga inflasi Sumatera Barat tetap terkendali,” ungkap Abdul Majid dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Meski inflasi melandai, tekanan harga pada Juni masih datang dari kelompok transportasi akibat kenaikan harga energi dan meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur sekolah.
Harga bensin tercatat mengalami inflasi sebesar 3,28 persen (mtm) dengan andil 0,14 persen setelah adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi pada awal Juni 2026. Sementara tarif angkutan udara naik 6,01 persen (mtm) dengan andil 0,03 persen, dipicu kenaikan harga avtur dan tingginya permintaan perjalanan.
Selain itu, bahan bakar rumah tangga juga mengalami inflasi sebesar 3,20 persen (mtm) akibat kenaikan harga LPG non-subsidi yang dipengaruhi tingginya harga energi global.
Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas pangan berhasil menahan laju inflasi. Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 7,32 persen (mtm) dengan andil minus 0,10 persen, sedangkan telur ayam ras turun 4,33 persen (mtm) dengan andil minus 0,03 persen.
Komoditas hortikultura seperti sawi hijau, buncis, dan kangkung juga memberikan andil deflasi masing-masing sebesar minus 0,01 persen. Penurunan harga unggas dipicu kondisi kelebihan pasokan DOC (day old chick) secara nasional yang meningkatkan pasokan di pasar.
Dengan kondisi tersebut, inflasi kumulatif Sumatera Barat hingga Juni 2026 tetap terjaga di bawah satu persen.”Sementara itu, inflasi lebih tinggi tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,61 persen (mtm) dan tertinggi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,01 persen (mtm), terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin, cabai merah, serta komoditas hortikultura lainnya,” ujarnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI Sumatera Barat bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, dan pengendalian ekspektasi masyarakat.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.
