KATASUMBAR — Brand Tangkelek sudah sangat dikenal di Sumbar. Bermula dari baju kaos, sekarang berkembang ke bisnis lain.
Owner Tangkelek, Fefri Rusji atau akrab disapa Aji, mengungkap kiat bisnisnya dalam program Manajemen Praktis with Iskandar Z. Lubis.
Tonton wawancara versi video di link di bawah:
Aji mengatakan bisnisnya bermula diskusi tiga temannya sesama kuliah di Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP).
Uniknya, ketiganya bekerja dengan profesi yang sama yaitu ilustrator di media. Aji bekerja di Harian Singgalang, Khalid di Harian Haluan, dan Rio di Padang Ekspres.
Ketiganya melihat peluang bisnis baju kaos. Tapi, baju kaos yang dibuat adalah untuk oleh-oleh. Selama ini, sebutnya, sudah ada pemain di bisnis ini. Namun, kualitas dan desainnya belum terlalu menarik.
“Kami melihat peluang ini,” ujarnya. Mereka bertiga sudah sepakat dan memberi nama bisnis baru itu Lamang Tapai.
Namun, sebelum produk dibuat, Rio keluar. Tinggalah Khalid dan Aji.
Sepeninggal Rio, mereka mengganti nama Lamang Tapai menjadi Tangkelek. Filosofi Tangkelek: sederhana, keras, kemanapun dibawa selalu berbunyi.
“Kami ingin, produk kami bisa mengkampenyakan Minang dimanapun berada,” ujarnya.
Produk-produk Tangkelek memang sangat kental unsur keminangan. Mulai dari desain hingga bahasa yang digunakan.
Cobaan awal
Aji bercerita, setelah produk baju kaos berhasil mereka buat, pertanyaan besarnya adalah pasar.
Ide awal, pasar yang mereka sasar adalah toko oleh-oleh. Namun, produk mereka tidak diterima.
“Mereka bilang produk kami mahal. Waktu itu kami jual Rp65 ribu. Sementara pasarnya hanya Rp35 ribu,” ujar Aji.
Menurut Aji, harga mahal karena kualitas kaos dan desainnya lebih menarik. Tapi, alasan itu tidak diterima.
Aji dan Khalid berencana akan membuka toko sendiri. Tapi, mereka tak memiliki cukup uang. Sudah berusaha meminjam uang ke bank. Tapi tidak berhasil.
“Kami punya ide. Tapi bank tak berani kasih modal,” ujar Aji.
Tiba-tiba, ditengah keputusasaan, Khalid mendapat pinjaman dari koperasi sebesar Rp50 juta.
Setelah dapat uang, mereka menyewa outlet di Plaza Andalas pada Agustus 2009. Dari sinilah bisnis Tangkelek bermula.
Outlet saat itu disewa Rp10 juta. Aji mengatakan dipilih Plaza Andalas dengan dua tujuan. Selain penjualan, juga promosi.
Jika menyewa kedai di tepi jalan, sulit mengajak orang untuk masuk. Tapi kalau di Plaza Andalas, karena saat itu sedang ramai-ramainya, bisa langsung untuk promosi.
Namun, malang tak dapat ditolak. Sebulan kemudian terjadi peristiwa dahsyat: gempa bumi.
Gedung Plaza Andalas hancur lebur. “Termasuk outlet kami. Interiornya hancur. Tapi beruntung baju-baju masih bisa diselamatkan,” kenang Aji.
Pindah ke Bukittinggi
Peristiwa gempa memang tidak bisa ditebak. Tapi dampaknya ke Tangkelek sangat besar. Aji bahkan bingung akan dibawa kemana bisnisnya.
Ekonomi saat itu benar-benar ambruk. Orang-orang lebih memikirkan membeli beras daripada baju kaos.
“Kami sudah pusing memikirkan beban operasional dan kredit,” ujarnya.
Datang tawaran dari Bambang Idaman. Bambang adalah teman sesama kuliah dulu. Ia tinggal di Bukittinggi.
Ia menawarkan baju-baju Tangkelek dijual di Bukittinggi. “Waktu itu, ekonomi matinya hanya di Padang dan Padang Pariaman. Bukit tidak,” ujar Aji.
Masuk akal. Kemudian dibawahlah baju-baju Tangkelek ke Bukittinggi pascagempa 2009.
Penjualan di Bukittinggi sungguh tak terpikirkan awalnya. Penjualannya lebih besar dibandingkan Padang.
“Mungkin karena ini kota wisata. Sehingga produk berterima di sini,” ujar Aji.
Hasil penjualan di Bukittinggi kemudian dijadikan untuk membangun ulang Tangkelek di Padang. Kali ini dibangun di Ulak Karang pada akhir 2009.
Mundur dari karyawan
Saat Tangkelek sudah mulai tumbuh, Aji masih bekerja di Harian Singgalang. Khalid memutuskan ikut tes PNS pada 2013. Dan lulus.
Aji memikirkan, Tangkelek harus diseriusi agar berkembang lebih pesat. Ia kemudian memutuskan resign menjadi karyawan Harian Singgalang.
Ia menyewa ruko 3 lantai di Ulak Karang setelah mundur dari karyawan. Pada saat yang sama dibuka lagi cabang di Payakumbuh.
“Pada 2013 ini saya benar-benar fokus ke Tangkelek,” ujar Aji. Aji tidak hanya fokus kepada penjualan, tapi juga produksi.
Selama ini, produksi menggunakan vendor di Bandung. Pada 2015, Aji berhasil memproduksi sendiri baju-baju kaos Tangkelek di Payakumbuh.
Produk pun berkembang, tidak hanya baju. Tangkelek juga mulai memproduksi sweater, tas, gelang, dan sebagainya.
“Kami ingin Tangkelek jadi produk clothing, tidak hanya baju,” ujar putra Muaro Paiti, Kabupaten 50 Kota itu.
Pada 2019, Tangkelek juga merambah bisnis kedai kopi. Sasarannya, sebut Aji, saat orang berbelanja, sambil menunggu, bisa minum kopi.
Kini, Tangkelek sudah memiliki 8 outlet yang tersebar di Padang, Bandara Internasional Minang (BIM), Bukittinggi, Payakumbuh, Pariaman, Pasaman Barat, Solok, dan Agam.
“Semuanya tidak punya saya. Empat outlite dimiliki mantan karyawan. Sistemnya bukan frienches, tapi fee saja,” ujar Aji. (*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.
