KATASUMBAR – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade dan Bupati Agam Benni Warlis sama-sama mengarah pada kawasan Pasar Amur sebagai titik penting dalam rencana pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi. Namun, keduanya memiliki pertimbangan berbeda dalam mendorong kawasan tersebut sebagai lokasi akses atau exit tol.
Bagi Andre, pemanfaatan trase bypass di kawasan Pasar Amur menjadi solusi untuk mengintegrasikan pembangunan jalan tol dengan kebutuhan membuka jalur alternatif baru menuju Bukittinggi sekaligus mengurai kemacetan di kawasan Padang Luar.
Sementara Pemkab Agam sejak awal mengusulkan jalur Pasar Amur–Simpang Taluak yang terhubung ke Jalan Bypass Bukittinggi dengan pertimbangan trase tersebut lebih pendek, efisien dalam penggunaan lahan, serta memiliki hambatan sosial yang lebih kecil dibandingkan sejumlah alternatif lainnya.
Andre mengatakan, skema yang kini didorong adalah memanfaatkan trase bypass yang telah direncanakan sejak puluhan tahun lalu. Pemerintah pusat diharapkan dapat melakukan pembebasan lahan sekaligus membangun jalur sekitar 6 kilometer yang berfungsi sebagai bypass dan akses keluar tol.
“Insya Allah dari Padang Panjang menuju Agam ini nanti exit tolnya kita siapkan di daerah Pasar Amor. Supaya tidak macet dan tidak masuk ke jalan nasional ke arah Padang Luar, bypass yang sudah direncanakan sekitar 6 kilometer ini dibangun pemerintah pusat,” kata Andre saat meninjau kawasan Pasar Amur, Nagari Batu Palano, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Andre, pertimbangan utama pemanfaatan jalur tersebut adalah agar pembangunan tol dapat sekaligus menjawab persoalan kemacetan. Dengan adanya bypass, kendaraan dari arah tol tidak seluruhnya masuk ke jalur nasional menuju Padang Luar.
Skema itu, kata Andre, juga dapat merealisasikan trase bypass yang selama ini hanya berada dalam perencanaan. Ia menilai pemerintah dan masyarakat bisa memperoleh dua manfaat sekaligus, yakni pembangunan jalan tol dan tersedianya jalur alternatif menuju Bukittinggi.
Di sisi lain, Benni Warlis sebelumnya mengusulkan pemanfaatan kawasan Pasar Amur sebagai bagian dari trase alternatif Tol Sicincin–Bukittinggi. Usulan itu muncul setelah trase sebelumnya yang melewati kawasan Kubang Putiah mendapat penolakan masyarakat.
Pemkab Agam kemudian mengusulkan jalur dari Pasar Amur menuju Simpang Taluak hingga terhubung ke Jalan Bypass Bukittinggi dengan panjang sekitar 6 kilometer. Menurut Benni, pilihan jalur tersebut mempertimbangkan aspek sosial, teknis, tanah ulayat, serta efisiensi penggunaan lahan.
Benni juga menyebut, berdasarkan komunikasi pemerintah daerah dengan tokoh masyarakat dan wali nagari, jalur bypass yang melewati Pasar Amur memiliki tingkat hambatan yang relatif lebih kecil.
Dengan demikian, jika Andre melihat Pasar Amur sebagai titik strategis untuk menghubungkan exit tol dengan bypass sekaligus mengurai kemacetan Padang Luar, pertimbangan Pemkab Agam lebih menitikberatkan pada pemilihan trase yang minim persoalan sosial dan lebih efisien untuk direalisasikan.
Meski demikian, kedua pertimbangan tersebut kini bertemu pada satu titik, yakni pemanfaatan trase bypass melalui kawasan Pasar Amur sebagai alternatif kelanjutan pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi.
Andre mengatakan pematangan trase akan kembali dibahas bersama sejumlah pihak pada 8 September 2026. Pembahasan tersebut melibatkan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional, PT Hutama Karya, Pemerintah Kabupaten Agam, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Namun, rencana trase Tol Sicincin–Bukittinggi masih berada dalam tahap pembahasan dan belum menjadi penetapan final. Pemerintah Kabupaten Agam juga sebelumnya menegaskan bahwa berbagai jalur yang dibahas masih berupa usulan dan perlu melalui proses kajian serta kesepakatan para pihak terkait.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.
